Wisata

Taman nasional ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan ditunjang keanekaragaman budaya yang mengagumkan. Diperkirakan kebudayaan tersebut berumur 30.000 tahun dan merupakan tempat kediaman Suku Nduga, Dani Barat, Suku Amungme, Suku Sempan dan Suku Asmat. Kemungkinan masih ada lagi masyarakat yang hidup terpencil di hutan belantara ini yang belum mengadakan hubungan dengan manusia modern. Suku Asmat terkenal dengan keterampilan pahatan patungnya. Menurut kepercayaannya, suku tersebut identik dengan hutan atau pohon. Batang pohon dilambangkan sebagai tubuh manusia, dahan-dahannya sebagai lengan, dan buahnya sebagai kepala manusia. Pohon dianggap sebagai tempat hidup para arwah nenek moyang mereka. Sistem masyarakat Asmat yang menghormati pohon, ternyata berlaku juga untuk sungai, gunung dan lain-lain. Perpaduan hal-hal tersebut di atas, yaitu kekayaan keanekaragaman hayati, gejala alam dan panorama alam, serta budaya masyarakat tradisionalnya yang demikian tinggi merupakan potensi pariwisata yang luar biasa. Beberapa kegiatan wisata yang dapat dikembangkan di kawasan ini, diantaranya pertunjukan khidupan liar, pendakian puncak jaya, dan atraksi budaya.